Apa itu coaching? (seri 1 topik coaching dari beberapa tulisan)

Pernahkan Anda mendengar istilah coaching?

Mungkin sebagian besar dari kita cukup familiar dengan istilah tersebut, namun sebagian lain belum tentu pernah mendengar. Orang yang mengenal coaching pun akan memiliki beragam pemahaman tentang  coaching.  Ada yang berkata bahwa coaching sama saja dengan mengajar/memberi training, atau memberikan solusi atas masalah orang lain, ataupun menjadi tempat berkonsultansi dari pihak yang kurang memiliki pengetahuan kepada pihak yang lebih tahu, atau malah ada yang bilang coaching itu adalah menasihati dan meminta kepada orang lain untuk merubah perilakunya.

Di dunia bisnis pun banyak orang yang menyebut dirinya sebagai coach.  Defenisi dan peran yang mereka lakukan sebagai coach pun akan berbeda-beda antar satu orang dengan yang lain sesuai pemahaman mereka masing-masing tadi. Sebagai konsekuensinya, cara mereka melakukan coaching pun akan berbeda-beda.

Jadi sebenarnya coaching itu apa?

Defenisi coaching dari International Coach Federation /ICF  (sebuah lembaga asosiasi coach terbesar di dunia) adalah ” Coaching is partnering with clients in a thought-provoking and creative process that inspires them to maximize their personal and professional potential“.  Terjemahan bebasnya: coaching itu adalah diskusi yang bersifat provokatif antara satu orang (coach) dengan orang lain (coachee) dengan tujuan untuk membantu si coachee memaksimalkan diri dan potensi yang dimilikinya.

Siapa  itu coach? Coach adalah orang yang memfasilitasi orang lain (coachee). Siapa itu coachee? Coachee adalah orang yang ingin ditingkatkan dan digali potensinya. Coach bisa saja atasan di tempat kerja ataupun orang lain yang memang berprofesi sebagai profesional coach.

Satu filosofi dasar di dalam coaching yang membedakannya dengan training ataupun konsultansi adalah bahwa manusia sebenarnya sudah dikaruniai akal oleh Tuhan untuk menyelesaikan masalah mereka. Artinya “people are okay!”.  Namun kemudian cara berfikir yang tidak sistematis serta adanya self limiting belief seperti ketakutan untuk gagal dan ketidak percayaan diri yang membuat mereka tidak optimal dalam menghadapi situasi disekitar mereka.

Oleh karena itu di dalam coaching, seorang coach mengambil peran sebagai partner yang bertugas untuk memprovokasi/menantang cara berfikir dan memancing ide-ide kreatif dari si coachee, sehingga mereka bisa menyelesaikan persoalan mereka sendiri secara mandiri. Karena bersifat partnership, maka coach tidak akan menempatkan dirinya sebagai pihak yang lebih tahu/expert dibanding coachee. Coach akan memancing percakapan melalui serangkaian pertanyaan yang mampu membuat coachee berfikir ulang atas cara berfikirnya selama ini. Sehingga coachee menyadari sendiri jika ada yang salah atau perlu diperbaiki.

Jika sudah sadar/benar cara berfikir mereka, maka kemuadian coach akan menantang si coachee untuk mencari ide perbaikan dan menciptakan ownership atas ide tersebut. Lebih jauh, coach akan mengambil peranan sebagai partner bagi coachee dalam mengimplementasikan ide mereka tersebut. Jadi pendekatannya adalah menciptakan komitmen dari dalam diri si coachee sendiri untuk berubah.

Nah sedangkan di dalam dunia training ataupun konsultansi, para trainer dan konsultan menempatkan diri mereka sebagai  expert. Mereka akan memberikan jawaban dan saran serta malah akan merancangkan suatu sistem perbaikan bagi trainee atau klien mereka. Pendekatannya adalah internalisasi pengetahuan trainer dan konsultan kepada trainee dan klien. Apakah klien memiliki komitment  atau tidak untuk mengimplementasikan pengetahuan tersebut sudah bukan tanggung jawab trainer dan konsultan lagi.

Jadi intinya coaching itu tidak sama dengan training dan konsultansi.

Lalu bagaimana degan istilah mentoring dan counseling? Apa yang membedakan mereka dengan coaching. Mentoring adalah proses alih pengetahuan antara orang yang sudah lebih senior kepada yang junior. Artinya mentor pun akan menempatkan diri mereka sebagai expert. Coaching tidak.

Sedangkan counseling adalah proses dimana counselor mencoba membantu orang lain itu memperbaiki situasi mereka dengan menggali pengalaman masa lampau orang tersebut. Cunselor akan banyak menghabiskan waktunya di penggalian penyebab persoalan. Counselor juga bisa memberi saran bagi kliennya. Sedangkan Couch tidak terlalu berfokus di penyebab masalah, melainkan bersifat menantang coache untuk memahami situasinya saat ini dan kemudian menggali ide perbaikan. Jadi coaching tidak sama dengan counseling.

Video berikut mungkin bisa membantu Anda untuk lebih memahami arti coaching : http://youtu.be/nFx6yKZrzco

Jadi kurang lebih seperti itulah yang sebenarnya yang dimaksud dengan coaching dan perbedaannya dengan pendekatan pengembangan manusia lainnya.

Apa manfaat coaching, metode implementasinya, kisah sukses coaching dan cara membangun budaya coaching di perusahaan akan saya lanjutnya di tulisan berikutnya.

Salam,

Wendra

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s